Qurban Patungan Dalam Islam, Bagaimana Hukumnya?

Qurban-Patungan-Dalam-Islam-Bagaimana-Hukumnya

Qurban adalah salah satu ibadah sunnah yang beitu diutamakan untuk dilakukan. Bagaimana tidak, melalui qurban umat Islam dapat menyucikan harta bendanya serta berbagi dengan sesama yang saling membutuhkan. Tak hanya itu saja, kurban juga memiliki tujuan lain berupa mendekatkan diri pada sang pencipta.

Qurban tak bisa dilakukan secara sembarangan. Waktu pelaksanaan beserta aturan yang melingkupinya jelas tertulis. Sehingga qurban harus dilaksanakan dengan tepat sesuai ajaran agama. Qurban biasanya dilakukan pada hari raya Idul Adha beserta tiga hari sesudahnya yang biasa dikenal dengan hari tasyrik.

Qurban bisa dilaksanakan secara perseorangan ataupun dengan Qurban patungan. Jelas mekanisme beserta hewan yang digunakan akan berbeda satu sama lain. Jika sendiri boleh menggunakan kambing. Namun, jika patungan hanya diperbolehkan untuk unta, sapi, dan kerbau dengan batas maksimal untuk tujuh orang.

Ketentuan Qurban Patungan

Qurban kolektif dalam Islam diperbolehkan asalkan mengikuti aturan yang ada. Jika tak mengikuti aturan, maka kegiatan tersebut tak akan dicatat sebagai qurban namun hanya tercatat sebagai sedekah biasa.

Untuk qurban sapi, unta, dan kerbau diperbolehkan secara patungan dengan batas maksimal 7 orang. 7 orang tersebut tak ada ketentuan pasti harus keluarga sendiri ataupun orang lain. Sehingga sah-sah saja jika dilakukan bukan dengan keluarga.

Biasanya qurban patungan akan dilakukan dengan mekanisme arisan qurban. Jadi, setiap tahun nantinya akan dikumpulkan berapa orang yang akan mengikuti qurban secara gantian. Sehingga akan lebih mudah dilakukan jika menggunakan sistem arisan.

Namun juga tertulis aturan jika yang mengikuti aturan hanyalah mereka yang memiliki kemampuan secara finansial saja. Mengingat arisan kurban mengharuskan orang memasukkan uang secara tersistem setiap harinya.

Harga hewan yang dikurbankan juga setiap tahun akan mengalami perbedaan. Sehingga harus diatur bagaimana mekanisme dalam menutupi kekurangan harga tersebut. Biasanya pada setoran pertama akan diminta kelebihan iuran untuk mengantisipasi kekurangan di tahun-tahun selanjutnya.

Meskipun dilakukan secara kolektif, namun Qurban patungan tetap atas nama individu. Sehingga tak akan mengatasnamakan jamaah namun dikembalikan untuk masing-masing individu. Qurban kolektif ini dinilai sebagai sistem yang memudahkan orang untuk berkurban.

Sehingga orang tak akan merasa keberatan dalam menyisihkan hartanya terutama dengan adanya sistem arisan yang akan membuat orang tak merasakan beratnya menabung. Sehingga qurban akan tetap dijalankan tanpa memberatkan dengan niat menyucikan harta benda serta mendekatkan diri pada sang pencipta.